Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Apa itu HIV? HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan AIDS. HIV ini merusak system kekebalan tubuh manusia karena merusak sel darah putih (sel T/T Helper/sel CD4). Secara rinci, H=Human, berarti virus hanya dapat menginfeksi manusia. I=immuno deficiency, yakni membuat tubuh manusia turun system kekebalannya, sehingg atubuh gagal melawan infeksi dan V=virus, karaktersitiknya mereproduksi diri sendiri di dalam sel manusia. Bila kita terinfeksi HIV, system kekebalan tubuh baru ter-bentuk setelah 3 minggu sampai 2 bulan (window periode). Oleh karena itu bila kita merasa melakukan perilaku berisiko tertular HIV (pakai jarum suntik, seks yang menyimpang), tes dilakukan menunggu selama 2 bulan. Namun dapat pula kita langsung tes kemudian diulang 2 bulan kemudian. Selama window periode tersebut meskipun HIV sudah ada didalam tubuh dan sudah dapat menularkan pada orang lain, namun hasil test yang ada saat ini masih akan menunjukan negatif dari HIV. Bahkan ada untuk sebagian kecil dari orang (5%) untuk mendapatkan hasil test positif mereka memerlukan waktu lebih dari 2 bulan. Oleh karena itu adalah masuk akal untuk mengulangi kembali test setelah 6 bulan, hingga rentang waktu 3 tahun. Hasil test positif bukan berarti kita menderita AIDS. Banyak yang HIV positif yang bertahun-tahun tetap hidup sehat, terlebih lagi dengan ditemukannya obat-obatan baru yang dapat menghambat kegiatan HIV menginfeksi sel yang masih sehat.
virus-hiv
Di dalam tubuh kita terdapat sel darah putih yang disebut sel CD4. Fungsi CD4 merupakan pengatur kegiatan kekebalan tubuh, tergantung ada atau tidaknya kuman yang harus dihancurkan HIV yang ma-suk ke dalam tubuh menulari sel itu “membajak”, dan kemudian menjadikannya “pabrik” yang membuat miliaran virus. Ketika proses tersebut selesai, tiruan HIV itu meninggalkan sel dan masuk ke CD4 yang lain. Sel yang ditinggalkan menjadi rusak. Jika sel ini hancur, maka system kekebalan tubuh akan kehilangan kemampuan untuk melindungi tubuh kita dari berbagai penyakit. Setelah perjalanan awal infeksi oleh HIV, penggandaan virus sangat cepat. Dan ini berarti virus yang ada didalam darah atau yang disebut virus load menjadi sangat tinggi. Umumnya dalam 3 bulan system kekebalan tubuh diaktifkan, system kekebalan tubuh membuat antibody untuk HIV dan viral load mulai menurun. Proses ini disebut serokonversi. Dan pada waktu itu gejala-gejala klinik dapat muncul berupa demam, kelenjar getah bening membengkak, ruam pada kulit dan sakit kepala yang bertahan 10-14 hari dan hilang sendiri. Mesikpun demikian tidak semua orang mengalami gejala infeksi HIV primer yang muncul pada tahap permulaan terinfeksi HIV. Setelah ini masa laten mulai. Pada masa ini bertahun-tahun orang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala. Masa HIV tanpa gejala rata-rata 7-10 tahun (tanpa pengobatan). Meskipun tanpa gejala HIV sangat aktif menggandakan diri dan merusak sel system kekebalan tubuh. Dan, pada masa ini viral load (virus dalam tubuh) biasanya sangat rendah karena system kekebalan masih menghancurkan virus yang baru. Namun, akhir masa ini penggandaan lebih cepat dari pada kemampuan menghancurkan system kekebalan dan viral load meningkat lagi. Sebelum permulaan AIDS, beberapa gejala yang sering timbul (wasting syndrome) antara lain : kehilangan berat badan, kehilangan tenaga, keringat berlebihan, demam serta ruam kulit yang bertahan lama. Penelitian menyimpulkan bahwa setelah 10 tahun maka 50% penderita yang tidak diberi pengobatan akan berkembang menjadi AIDS. (dr. Teddy Hidayat, Sp. K.J) Untuk waktu yang singkat HIV dapat hidup di luar tubuh dan ini tergantung dari cairan dan suhu tempat hidup virus diluar tubuh tersebut (HIV tidak dapat hidup jika terkena oksigen dan dapat hancur hanya pada suhu 56 derajat celcius). Setelah HIV menyerang 5-10 tahun atau lebih pada tubuh seseorang, system kekebalan tubuh dapat menjadi lemah dan satu atau lebih penyakit akan timbul atau lebih parah dari biasanya. Sehingga tahap terjangkit HIV menjadi memasuki tahap AIDS.

Bagaimana Jika Keluarga Mengidap HIV?

Apa yang harus dilakukan jika tahu ada salah satu keluarga mengidap HIV /AIDS?

HIV tidak mudah ditularkan, dan tidak menular melalui bersalaman, bersentuhan, berpelukan, berci-uman pipi, batuk atau bersin, memakai peralatan rumah tangga bersama; seperti alat makan, telefon, kamar mandi, WC umum, kolam renang. Juga tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk, bekerja berseko-lah atau berkendaraan bersama. HIV tidak ditularkan lewat udara dan cepat mati bila berada di luar tubuh, kemudian mudah dibunuh dengan cairan pemutih (bleach) atau dengan sabun dan air. HIV tidak dapat diserap oleh kulit yang utuh.
Memakai shampoo, odol atau sabun mandi bersamaan dengan anggota keluarga anda yang terkena HIV juga tidak dapat menularkan HIV pada yang lain. Karena shampoo, odol atau sabun mandi apapun semuanya mengandung deterjen, dan virus tidak dapat hidup jika terkena deterjen bahkan lewat udara atau air tanpa deterjen pun virus tidak dapat hidup lama. Mungkin ketika pertama kali anda mendapati anggota keluarga terkena HIV atau bahkan AIDS anda menjadi sangat sedih, marah, panik, terguncang serta berbagai rasa tak enak lainnya tentunya berkecamuk.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul biasanya : “Mengapa harus menimpa keluarga kami?” atau malah sudah tidak bisa berkata-kata sama sekali karena sedih bercampur shock. Biasanya jika sudah muncul perta-nyaan “Mengapa terjadi” Anda mulai marah kepada si anggota keluarga yang terinfeksi HIV lalu mulai menya-lahkan orang lain selain si anak, seperti : si suami, si istri atau bahkan teman main anggota keluarga yang saat ini menjadi terinfeksi. Benar bahwa reaksi-reaksi tersebut adalah reaksi normal manusia menerima kenyataan yang tidak baik yang tidak pernah mereka bayangkan. Namun, jika kita berputar-putar terus pada emosi marah kita, takut dan tertekan (karena mendengar informasi disekitar anda me-ngenai HIV yang menakutkan) hal tersebut tidak akan merubah keadaan anda maupun si penderita.
Selain membuat sang anak atau si penderita HIV tidak merasakan perhatian-kepedulian anda, kema-rahan anda hanya membuat anda semakin terlihat “hopeless” dan hal tersebut tidak membangun jiwa anak untuk tegar dan memiliki harapan bahwa masa depan selalu ada bagi setiap orang yang mengusa-hakan. Berikut ini adalah sebuah kutipan kejadian mengenai seorang ibu yang mendapati anaknya terinfeksi HIV yang kami kutip dari harian umum Pikiran Rakyat: “Mengapa ini harus menimpa keluarga kami?” ucap sedih seorang ibu tatkala menerima keterangan dokter bahwa anaknya, pemuda kurus berusia 27 tahun, positif mengidap HIV. Pertanyaan pedih kepada diri sendiri itu diawali dengan reaksi kemarahan hebat di luar ruang konsultasi dokter di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. “Itulah hasil kelakukan kamu! Kalau sudah begini mau bagaimana lagi.” Kata sang ibu memarahi anaknya. Lama-kelamaan kemarahan itu berganti dengan isak tangis pedih.
Reaksi tersebut menurut seorang dokter sekaligus konselor Klinik Khusus melayani pengidap HIV – Human Immunodeffciency Virus dan AIDS – Acquired Immonediciency Sydrome, adalah reaksi yang sangat normal. Namun reaksi shock semacam ini secara pasti harus segera digantikan dengan sikap mendukung penderita. “Kasihan sekali jika penderita yang sebenarnya juga terguncang masih pula harus menghadapi kemarahan dari orang-orang terdekatnya. Yang sudah lalu, ya sudahlah. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana membantu dia menghadapi masa depannya” ujar dokter Nirmala.
Apalagi, jika penderita HIV atau AIDS adalah pencandu narkotika suntik. “Jiwa mereka labil sekali, se-hingga butuh dukungan yang kuat dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga” menurut sang dok-ter. Bahkan, orang dengan mental yang kuat sekalipun dan sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati oleh dokter atau konselor dalam menerima “vonis” tersebut, tetap jatuh mental saat akhirnya tahu bahwa ia mengidap virus ini. “Lebih baik saya mati saja, Dok.”. Begitu kebanyakan kalimat spontan para penderita. Disinilah pentingnya peran pendamping dan keluarga atau sahabat untuk memberikan kekua-tan dan harapan bagi siapapun yang divonis mengidap HIV.
Dari Kasus-kasus yang HIV terjadi, banyak keajaiban pada pasien AIDS yang diterima dengan keikhla-san serta mendapat dukungan keluarga yang luar biasa. Dokter tersebut juga menyatakan “Mereka yang sudah sampai stadium empat itu ibarat tumbuhan yang dimakan ulat, sangat sakit dan tidak berdaya. Namun banyak kasus menunjukan, dengan dukungan dan pendampingan keluarga serta mem-peroleh therapy HIV secara kontinu, pasien bisa kembali berseri-seri. Dukungan orang-orang terdekat dan keluarga benar-benar obat paling mujarab, di samping obat-obatan itu sendiri”.
Hal yang mengharukan juga terjadi dari reaksi kalangan para perempuan yang mengetahui suaminya terkena penyakit tersebut. Umumnya, para perempuan tabah ini bener-bener mempraktikkan sumpah setia perkawinan mereka.
Banyak perempuan berujar kepada pasangan hidupnya “Apapun yang terjadi saya tidak akan meninggalkan bapak. Tidak hanya pada waktu senang saya mendampingi bapak, tapi juga pada saat sakit seperti ini”. Menurut dr. Nirmala menirukan pernyataan istri dari salah satu pasien-nya.

sumber: http://obathiv.net/bagaimana-jikakeluarga-mengidap-hiv.html 

Apa yang dilakukan jika mengidap HIV / AIDS?

Apa yang harus dilakukan jika positif HIV / AIDS?

Jangan panik, atau kuatir yang berlebihan. Terkena HIV bukan berarti anda akan segera meninggal. Banyak kasus dimana pengidap HIV hidup lama bahkan memasuki jenjang pernikahan dan memiliki anak-anak yang sehat jika anda memperoleh pengobatan atau therapy yang tepat sejak dini. Apabila anda mengetahui mengidap HIV sejak awal, tinggalkan berlama-lama marah, kecewa atau meratap. Segera miliki hati yang besar dan bersyukurlah, karena sebenarnya dengan mengetahui lebih awal Anda dapat segera menyikapi diri dengan mengumpulkan data dan informasi sejak dini, salah satunya mengumpulkan informasi dan menentukan pilihan therapy yang cocok untuk anda tanpa perlu menunggu hingga berubah menjadi status AIDS. Sehingga anda dapat memulai pengobatan yang tepat bagi HIV. Yang artinya peluang anda untuk hidup sehat, dapat bekerja atau berkarier seperti orang normal akan menjadi jauh lebih besar. Status HIV sifatnya rahasia bagi orang lain, kecuali diri anda sendiri, dokter yang merawat, atau konselor anda. Penderitalah yang menentukan jika ingin ada orang lain mengetahui status HIV anda (termasuk keluarga). Maka anda harus benar-benar yakin bahwa orang yang akan anda beritahu dapat dipercaya.
Hal yang dapat membantu adalah jika anda dapat berbicara terlebih dahulu dengan seseorang yang anda tahu dapat mendukung anda tidak peduli apakah orang tersebut keluarga, saudara atau teman, sampai kita merasa cukup nyaman membagi raha-sia dengan orang yang lainnya. Orang yang penting untuk diberitahu adalah pasangan (jika anda sudah memiliki pasangan), karena hal ini ada hubungannya dengan dia juga.
Mulailah membangun diri sendiri untuk berkeinginan hidup sehat, dan pikirkanlah bahwa apapun pe-nyakit Anda, tidak ada yang dapat menghentikan Anda untuk memperoleh hak anda untuk menjadi sehat dan bahagia. Jika anda sudah berada dalam treatment yang baik ,  Anda bisa berkarier Anda bahkan bisa memiliki pernikahan dan anak yang sehat dalam penanganan therapy yang aman dan tepat yang anda pilih (walaupun 30% kemungkinan anak dari keturunan penderita HIV akan juga sudah ter-jangkit HIV ketika lahir, namun HIV bukan berarti kematian, yang perlu anda benar-benar usahakan adalah berusaha hidup sehat selama mungkin dengan treatment yang tepat pilihan anda. Miliki pandangan hidup yang positif. Jika kita sering mendengar bahwa “HIV/AIDS tidak ada obatnya”, Segera tinggalkan pikiran dan kata-kata itu jika itu menghancurkan harapan dalam hati Anda. Katakan pada diri anda “HIV/AIDS sudah dapat diobati dan saya bisa hidup sehat, bahwa hidup sehat adalah hak saya dan hak bagi setiap orang yang mengusahakannya”. Setelah mengetahui terinfeksi HIV kita tidak boleh kehilangan martabat sebagai manusia. Banggalah terhadap diri kita atas segala usaha menghadapi hidup sebaik kemampuan manusia sehat yang tanpa HIV.
Sayangilah diri sendiri dan tidak perlu membesar-besarkan rasa malu, atau rasa bersalah jika hal-hal tersebut mengikat langkah hidup untuk mem-peroleh informasi tentang pengobatan HIV. Khususnya informasi mengenai pilihan pengo-batan HIV secara herbal, karena herbal tetap akan lebih baik, terutama herbal yang tanpa efek samping. Terinfeksi HIV bukan berarti kita lebih hina dari pada orang dengan penyakit yang lain. Semua berasal dari pikiran kita, jadi amat sangat penting bagi seorang dengan HIV: “jagalah pikiran kita dari perkataan buruk orang lain yang ingin di suntikan pada kita, bahwa kita akan segera mati atau tidak ada harapan lagi, buang segera kata-kata itu, dan segera lupakan detik yang sama, supaya kita dapat tetap fokus untuk dapat sehat dan menjaga bathin kita tetap ringan menghadapi cobaan sebesar gunung pun”. Memang pada kasus HIV yang terlambat, atau tidak ditangani, atau tidak memperoleh therapy yang sesuai pada waktunya dapat menjadi AIDS periode perubahan seorang dengan HIV menjadi AIDS tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing individu. Dan daya tahan tubuh erat sekali berhubungan dengan suasana hati yang gembira.