Tampilkan postingan dengan label kisah inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Kisah Inspirasi: Pelajaran dari seorang Tuna Netra

kisah inspirasi pelajaran dari tuna netra
Kisah Inspirasi: Pelajaran dari seorang Tuna Netra
Ini adalah kisah dua orang pria yang sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita penyakit yang mengharuskannya duduk dekat jendela disamping tempat tidurnya selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya dan untuk menormalkan jantungnya karena denyutnya sangat lemah.
Sedangkan pria yang lain harus berbaring. Pria ini sering uring-uringan, bahkan tak jarang membentak anggota keluarga yang menjaga dan perawat yang memeriksanya. Tak jarang pula pria yang satu ini berteriak di malam hari (mungkin karena kesakitan) sehingga mengganggu pasien yang lainnya.

Suatu hari di sore yang cerah, seperti biasa pria yang berada dekat jendela ini duduk sambil melihat keluar jendela.
Sambil tersenyum dan dengan wajah gembira dia menggumam, "Senang sekali ya seandainya aku bisa berjalan-jalan setiap sore di taman itu, tentunya aku tidak ingin kembali di tempat ini lagi." gumamnya sambil tetap terlihat tersenyum.
Melihat hal itu pria satunya yang berada di sebelah tempat tidurnya berkata dengan rasa penasaran, "Apa yang kau lihat di luar sana, kawan?"

"Sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah." jelas pria yang duduk
Setiap sore ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria yang hanya bisa berbaring merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan begitu detil sehingga membuat pria yang berbaring membayangkan semua keindahan pemandangan itu.
Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya pun semakin bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.
Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.
Suatu pagi, seorang perawat mendapati pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.
Pria yang kedua merasa begitu kehilangan seorang teman yang mengisi hari-harinya. Begitu penasarannya dengan apa yang diceritakan oleh sang kawan hingga ia meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu.
Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah . . . Tembok Kosong!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

Dari perawat itulah dia menyadari bahwa rekannya yang sudah meninggal ternyata seorang Tuna Netra yang terserang penyakit parah dan kronis
Hikmah :
Kata yang penuh semangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita.
Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, akan selalu lebih baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal.
Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain.
Jeunesse Global Indonesia

Kerja di rumah juga bisa kok menghasilkan duit banyak, info KLIK SINI.

Kisah Inspirasi: Hidupmu itu indah kok!!!

Kisah Ispirasi: Hidupmu itu indah

kisah ispirasi hidup ini indahKamu Sangat Diberkati
diceritakan kembali oleh seorang sahabat

Pernah nggak sih kamu ngerasain kalo hidup itu bener-bener ‘bad’ dan nggak berarti lagi dan berharap, coba kalo kita bisa ada di kehidupan yang lain! Saya akui, saya cukup sering merasa begitu.
Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! ‘Kerja menyebalkan’, hidup tak berguna’, dan nggak ada sesuatu yang beres!

Tapi semua itu berubah,  sejak kemarin...
Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah! Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita.
Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!
Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat.
Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India. Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!!
Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun! terus menghantuinya sampai sekarang.

Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu? Apa anaknya itu 'sangat nakal?' atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!
Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat …MENGEMIS!
Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!

Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri!
Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu… mereka berebutan untuk memakannya! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).
Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat.
Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya. Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga meng- habiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari. Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!  

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!
Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu?
Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan!
Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR? Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki?    

dari note Theresia Ratih Sawitridjati
Jeunesse Global Indonesia

Kerja di rumah juga bisa kok menghasilkan duit banyak, info KLIK SINI.

Kamis, 15 September 2011

Kujual separu ginjalku demi suamiku | Kisah Inspirasi



kisah inspirasi
kujual ginjalku demi suamiTak terasa perjalanan rumah tangga kami sudah berjalan lebih dari dua belas tahun, tiga orang buah hati juga telah menghiasi dan melengkapi bahtera rumah tangga ini. seperti juga keluarga lainnya,  kebahagaiaan, rintangan dan pertentangan yang menimbulkan pertengkaran, juga kerap terjadi dalam perkawinan kami, dan itu semua bisa kami lewati dengan segala usaha dan daya agar perkawinan ini bisa bertahan sampai akhir hayat kami.
Sebut saja namaku Luken (bukan nama sebenarnya), aku adalah seorang guru Sekolah Dasar di Bogor, Jawa Barat. Sebelumnya, suamiku sebut saja namanya Bardi (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai sopir di sebuah industi di kawasan Karawang, Jawa barat. Dan hanya pulang kerumah tiga kali dalam seminggu karena jarak yang cukup jauh dari rumah ke tempat pekerjaan
Lantaran hal tersebut, aku sebagai istrinya tak bisa mengetahui secara pasti apa saja kegiatannya saat pekerjaannya selesai. Terus terang, sedikit banyak aku merasa risau, apalagi banyak mitos yang menyebutkan bahwa profesi sopir biasanya memilki banyak godaan, khususnya godaan perempuan. Dulu, sebelum bekerja sebagai sopir, ia pernah tergoda dengan seorang janda beranak satu, padahal saat itu aku tengah mengadung anak keduaku.
Setengah tahun lamanya aku berusaha untuk tetap sabar menghadapi cobaan hidup yang memilukan, dan  untuk itu aku harus mengorbankan hak-hakku sebagai seorang istri. Aku harus tetap bekerja unutk mencukupi kebutuhan hidup kami. Sementara Bardi, kerjanya cuma nongkrong di rumah ajnda itu, pergi pagi hari dan pulang larut malam tanpa sedikitpun memberi uang belanja untuk aku, bahkan ia kerap meminta uang kepadaku.
Yang membuat hatiku bertambah pedih, Bardi kerap membawa Rio anak si janda yang masih balita itu ke rumah. Setiap hari Bardi juga membawa pulang motor milik janda tersebut. Padahal aku sudah mengingatkan Bardi agar tak membawa kendaraan tersebut ke rumah, karena sangat beresiko. Tapi Bardi malah memaki aku, “Kamu ini bego ya, suami pulang bawa motor bukannya senang kok malah takut, emang kamu bisa beli motor sendiri? udahlah jangan banyak laga,”
Bardi juga sering membanding-bandingkan Heri (bukan nama sebenarnya) anak pertamaku dengan anak janda itu. Ia bilang Rio yang seharusnya jadi anak kami, bukannya Heri yang kerap sakit-sakitan dan selalu menyusahkan. “Heri itu anak kita mas, lagipula yang selama ini mengurus Heri bukan kamu, aku yang setiap hari memberinya makan, mengasuhnya, mengantarnya ke sekolah, memberinya uang jajan. Apa kamu pernah melakukan hal itu sekali saja, belum pernahkan?” kataku saat itu.
Jika mengingat hal itu, air mata ini tak bisa lagi kubendung. Betapa perih hatiku ketika aku menyaksikan Heri merengek meminta ayahnya untuk berkeliling dengan motor yang kerap ia bawa, tetapi Bardi tak pernah mengacuhkannya, Heri cuma bisa menatap ayahnya dengan pandangan mata penuh harap dan menangis ketika melihat ayahnya pergi bersama Rio.
Begitulah kehidupanku, cobaan dan godaan datang silih berganti, sampai suatu ketika kekhawatiranku selama ini akhirnya terjadi juga. Motor yang kerap ia pakai untuk berkeliling dan bergaya hilang digondol pencuri. Si janda menuduh suamiku sengaja menjual motor tersebut. Ia tak perduli dengan keterangan yang dilontarkan Bardi. Ia juga mengancam akan melaporkan hal itu kepada polisi jika kami tak bisa menggantinya.
Ya Tuhan, dari mana uang pengganti itu bisa aku dapatkan, aku memang bekerja, memiliki sedikit simpanan, tapi itu semua untuk keperluan kami sehari-hari. Sementara Bardi saat itu cuma bisa termenung. Untuk meminta bantuan orang tuannya jelas ia tak berani, karena orang tuannya terlanjur mencapnya sebagai anak yang durhaka yang tak pernah mau mengikuti nasihat keluarga.
Keluarganya malah menyarankan aku untuk tak mengganti motor yang hilang tersebut, “Buat apa diganti Ken, biar aja dia di penjara, biar dia tau rasa. Dari dulu dinasehati tapi nggak pernah mau nurut,” sungut ayah Bardi. Tetapi Bardi tetaplah suamiku, ayah dari anakku, aku tak ingin kedua anakku kelak tahu ayahnya pernah masuk penjara, “Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi,” rutukku dalam hati.
Dan akhirnya aku memang bisa menggantinya dengan motor baru, dengan jerih payahku sendiri, dengan menghabiskan seluruh uang simpanan yang aku miliki. Dan sampai saat ini tak seorangpun tahu, termasuk suamiku sendiri jika uang yang kudapatkan itu adalah dengan menjual separuh ginjalku kepada seseorang yang membutuhkan. Biarlah hal itu menjadi rahasiaku sendiri, demi suami dan keutuhan rumah tanggaku juga demi nama baik keluargaku.
Aku berharap Bardi bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu dan sadar sepenuhnya bahwa ia memiliki keluarga yang memperhatikannya, membutuhkan kasih sayangnya, membutuhkan kehadirannya. Dan mudah-mudahan kerisauanku saat ini tak pernah menjadi kenyataan, mudah-mudahan Bardi tak lagi tergoda dengan hal-hal yang membuatnya bisa kembali terjebak dalam kemaksiatan.

sumber: perempuan.com